Media Massa Sebagai Media Sosialisasi

Media massa yang terdiri atas media cetak maupun elektronik, merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pula terhadap perilaku khalayaknya.

Pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat mengarahkan khalayak ke arah perilaku prososial maupun antisosial. Penanyangan berkesinambungan mengenai laporan konflik seperti konflik lokal di Indonesia, tayangan-tayangan berita kriminal, film-film luarnegeri yang menonjolkan kekerasan, dianggap sebagai suatu faktor yang mendorong perilaku agresif pada anak-anak yang melihatnya. Demikian juga penanyangan adegan-adegan yang berbau pornografi di layar televisi sering dikaitkan dengan perubahan moralitas serta peningkatan pelanggaran susila dalam masyarakat.

Iklan yang ditayangkan melalui media massa mempunyai potensi untuk mengubah pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat. Media massa pun sering digunakan untuk mempengaruhi dan bahkan membentuk pendapat unum. Di banyak negara, termasuk Indonesia televisi juga dimanfaatkan juga dimanfaatkan untuk menayangkan siaran-siaran pendidikan.

Jam siaran yang tersedia bagi acara-acara khusus untuk anak yang ditayangkan televisi, khususnya televisi swasta jumlahnya masih sangat terbatas. Akibatnya banyak acara yang tersedia bagi orang dewasa ikut pula ditonton oleh anak, padahal tayangan orang dewasa cenderung banyak memuat adegan pembunuhan, perkosaan, penganiayaan serta bentuk kekerasan lainnya. Ironisnya lagi banyak film kartun yang disediakan untuk tontonan anak-anak sering memuat adegan kekerasan dan sadis seperti penganiayaan dan pembunuhan. Dikhawatirkan adegan seperti itu dapat mempengaruhi pola perilaku anak Indonesia, khususnya di kota besar. Oleh karena itu orangtua hendaknya memperhatikan dan ikut memberikan penjelasan terhadap keinginan anak untuk menonton acara televisi yang kurang layak ditonton. Demikian juga waktu belajar untuk anak hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga anak tidak menghabiskan waktunya di muka layar televisi. Namun harus diakui pula bahwa televisi mempunyai pengaruh positif seperti merangsang interaksi, merangsang eksperimen dan pertumbuhan mental serta sosial anak di samping memperluas cakrawala pengetahuan.

About ariefzulkipli

Pembelajar dibidang sosiologi, menyukai logika dan positivisme.

Posted on November 9, 2012, in Pembelajaran and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: