Perilaku Menyimpang, Hasil Sosialisasi Yang Tidak Sempurna

Proses sosialisasi dapat dianggap tidak berhasil jika individu tidak mampu mendalami norma-norma masyarakat agar menjadi bagian dari dirinya. Orang-orang yang demikian tidak memiliki perasaan bersalah atau menyesal setelah melakukan pelanggaran hukum (sosiopatik). Dalam kasus ini, keluargalah yang paling bertanggungjawab atas penanaman norma-norma masyarakat dalam diri para anggotanya secara individual. Apabila keluarga tidak berhasil mendidik para anggotanya untuk mematuhi norma-norma, maka terjadilah perilaku menyimpang.

Perilaku menyimpang dapat pula merupakan produk sosialisasi yang disengaja maupun tidak disengaja. Orangtua, guru sekolah, media massa, dan media lainnya mungkin tidak bermaksud mendidik remaja yang masih muda dengan perilaku yang tidak sesuai.

Akan tetapi, anak-anak dapat belajar tentang kejahatan melalui acara televisi, internet, maupun membaca buku. Anak-anak juga mengamati perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang dewasa dan mungkin meniru perilaku mereka. Dan juga tidak menutup kemungkinan terdapat kelompok sosial yang menyimpang seperti mafia, geng motor, geng anak nakal yang dengan sengaja memengaruhi para remaja untuk tidak mematuhi norma-norma masyarakat.

Proses sosialisasi yang tidak sempurna dapat juga timbul karena cacat bawaan, kurang gizi, gangguan mental ataupun goncangan jiwa. Sebagai contoh, seseorang yang selalu menderita ketakutan atau kekecewaan maka setiap perilakunya akan selalu mengalami kebimbangan. Kebimbangan atau galau ini akan menjurus pada perbuatan-perbuatan yang selalu keliru (salah langkah) sehingga menimbulkan ejekan dari orang lain. Karena cemoohan tersebut, timbul kecenderungan mengasingkan diri dari pergaulan. Pengasingan diri ini mengakibatkan kurangnya pergaulan sehingga timbul proses sosialisasi yang tidak sempurna dalam menyerap norma/nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat dan pada gilirannya terjadilah perilaku menyimpang.

About ariefzulkipli

Pembelajar dibidang sosiologi, menyukai logika dan positivisme.

Posted on November 6, 2012, in Pembelajaran and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: