Faktor Pemicu dan Penyebab Konflik

Tentunya dalam kehidupan sehari-hari tidak asing lagi dengan istilah konflik. Konflik menjadi suatu bagian tak terpisahkan dalam masyarakat dan konflik menjadi bumbu-bumbu kehidupan menuju perubahan didalam masyarakat. Tidak ada masyarakat tanpa konflik, hanya saya bagaimana kita bisa me-manage konflik tersebut ke arah yang lebih baik. Berikut ini diuraikan sedikit mengenai penyebab dan pemicu konflik yang terjadi didalam masyarakat.

Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker, secara umum ada empat faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu :

  1. Perbedaan individual
  2. Perbedaan kebudayaan
  3. Perbedaan kepentingan
  4. Perubahan sosial

Namun, faktor-faktor tersebut bukanlah akar dari konflik, melainkan lebih merupakan pemicu terjadinya konflik.

Salah satu dampak negatif dari konflik

Menurut perspektif konsensus, penyebab utama (akar persoalan) terjadinya konflik sosial adalah adanya disfungsi sosial. Maksudnya, norma-norma sosial tidak ditaati dan pranata sosial serta pengendalian sosial tidak berfungsi dengan baik.

Sedangkan menurut teori konflik, penyebab terjadinya konflik sosial adalah adanya perbedaan atau ketimpangan hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat yang memunculkan diferensiasi kepentingan. Secara rinci, faktor penyebab konflik menurut Turner, adalah sebagai berikut :

  1. Ketidakmerataan distribusi sumber-sumber daya yang terbatas dalam masyarakat.
  2. Ditariknya kembali legitimasi penguasa politik oleh masyarakat kelas bawah.
  3. Adanya pandangan bahwa konflik merupakan cara untuk mewujudkan kepentingan.
  4. Sedikitnya saluran untuk menampung keluhan-keluhan masyarakat kelas bawah.
  5. Melemahnya kekuasaan negara yang disertai dengan mobilisasi masyarakat bawah dan atau elit.
  6. Kelompok masyarakat kelas bawah menerima ideologi radikal.

Namun, faktor-faktor penyebab konflik sosial tidak pernah bersifat sederhana dan tunggal melainkan bersifat kompleks dan jalin menjalin secara rumit. Faktor-faktor tersebut dapat sekaligus menyangkut dimensi ideologi-politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun agama.

Nah, tugas kita yang paling sederhana adalah menganalisa konflik yang terjadi berdasarkan hal-hal diatas.

About ariefzulkipli

Pembelajar dibidang sosiologi, menyukai logika dan positivisme.

Posted on July 10, 2012, in Pembelajaran. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: